Penyebar isu

Suatu hari ada seorang laki-laki datang kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Orang tersebut tertangkap saat menyebarkan kabar bohong tentang orang yang tak disukainya. Maka, berkatalah Umar kepada orang itu: ”Kami akan menyelidiki permasalahan itu. Tapi jika kamu berdusta, maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat ini — Jika datang kepadamu orang fasik dengan membawa suatu berita, maka selidikilah, (QS Al Hujuraat: 6). Dan, jika kamu benar maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat: Orang yang suka mencela, yang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba (QS Qolam: 11). Tapi kalau kamu suka saya akan memberi pengampunan.” Mendengar ucapan tersebut laki-laki itu langsung berkata: ”Pengampunan saja ya Amirul Mukminin. Saya berjanji tidak mengulangi lagi.”

Memang, sangat berbahaya bagi kaum Muslimin menerima mentah-mentah setiap berita, isu, atau omongan orang lain tanpa memikirkan dan membuktikan kebenarannya terlebih dulu. Apalagi, jika si pembawa berita tersebut termasuk orang yang fasik. Bisa jadi apa yang disampaikannya hanyalah bualan belaka. Juga bisa saja ada maksud tertentu untuk memecah belah keutuhan umat Islam dengan menyebarkan fitnah. ”Sejelek-jelek hamba Allah ialah orang-orang yang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba, yang memecah belah antara kekasih, yang suka mencari-cari cacat orang-orang yang baik,” (HR Ahmad).

Sifat hati-hati dan waspada adalah lebih baik bagi setiap Muslim dalam menerima suatu berita. Bukan sebaliknya tanpa berpikir langsung ikut menyebarluaskan pada orang lain. Langkah ini sangat berbahaya jika berita itu sendiri tidak benar dan bisa menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Islam sendiri sangat membenci orang-orang yang suka mendengarkan omongan jelek. Rasulullah saw bersabda: ”Barang siapa membicarakan seseorang dengan sesuatu yang tidak ada padanya karena hendak mencela dia, maka Allah akan menahan dia di neraka jahanam, sehingga dia datang untuk membebaskan apa yang diomongkan itu,” (HR Thabrani).

Begitu pula, Islam telah menegaskan bahwa kehormatan pribadi dan harga diri setiap Muslim harus dilindungi. Bagaimanapun, antara Muslim yang satu dan Muslim yang lain adalah bersaudara. ”Perumpamaan orang-orang Muslim, bagaimana kasih sayang dan tolong-menolong yang terjalin di antara mereka laksana satu tubuh. Jika satu bagian merintih merasakan sakit, maka seluruh bagian tubuh akan bereaksi membantunya dan beraksi meningkatkan panas badan,” (HR Muslim). Oleh karena itu, tidaklah patut memfitnah dan menjelek-jelekkan sesama Muslim. Apalagi jika isu, fitnah, dan celaan itu mengantarkan kepada kematian terhadap orang yang dituduh dan menimbulkan suasana ketakutan di tengah-tengah umat seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Tidak patut pula, setiap Muslim percaya akan suatu berita yang tidak pasti kebenarannya. Umat harus terbiasa berpikir, sebelum melakukan setiap aktivitas, agar nantinya tidak termasuk golongan orang-orang yang dimurkai Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s